G.
Defininsi Metode, Metodologi, Paradigma dan Pendekatan di dalam Riset Ilmiah
1.
Metode
Metode berasal dari Bahasa Yunani methodos
yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubung dengan upaya ilmiah, maka
metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi
sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode sebagai alat untuk tujuan atau
bagaimana cara melakukan atau membuat sesuatau.[1]
Metode merupakan cara
yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan
dan sebagainya): cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu
kegiatan guna mencapai tujuan yang di tentukan. Metode cara sistematis dan
terpikir secara baik untuk mencapai tujuan.
Metode dikatakan
objektif dan benar, bila sesuai dengan pokok yang ditelaah. Karena setiap
cabang ilmu pengetahuan mempunyai ojek telaahnya sendiri, maka masing-masing
mempunyai metodenya seniri pula; dengan demikian metode selalu terjalin dengan
teori. Ilmu pengetahuan eksakta umumnya menggunakan metode kuantitatif; ilmu
pengetahuan social, disamping metode kuntitaf (statistic), terutama bersifat
kualitatif.[2]
2.
Metodologi
Metodologi merupakan
ilmu tentang metode. Metodologi adalah
ilmu-ilmu atau cara yang digunakan untuk memproleh kebenaran menggunakan
penelusuran dengan cara tertentu dalam menentukan kenenaran, tergantung dari
realitas yang sedang dikaji. Metodologi tersusun dari cara-cara yang
terstruktur untuk memproleh ilmu. Dalam pembahasan ini kami khusukan metodologi
dalam ilmu islam. Fazlurrahman, orang Pakistan yang kini menjadi guru besar
tamu di unversitas Chicago, mempunyai pendapat bahwa pokok ajaran islam ada
tiga, yaitu percaya kepada keesaan allah, pembentukan masyarakat yang adil dan
kepercayaan hidup setelah mati. Untuk mengajari hal itu, sudah barang tentu
orang harus mempelajari konteks sejarahnya yaitu, dalam suasana dan situasi apa
ayat alquran itu diturunkan. Artinya bahwa Asbabun Nuzul merupakan hadis yang
juga merupakan sumber dalam memahami islam, rupa-rupanya digunakan faxlurrahman
dengan sangat hati-hati, dan hanya hadis yang benar-benar hadis itulah yang
dipergunakan dengan mengingat sebab-sebab hadist itu diucapkan oleh nabi
muhammad. Pengertian yang diproleh dari mempelajari Al-qur’an dan hadis dalam
konteks sejarahnya itu lalu ditafsirkannya dalam perspektif kontemporer.
Melainkan tiga macam metodologi tersebut di atas orang memahami sekalipun
pendekatan mereka berbeda, namun dapat diambil kesimpulannya: 1. Allah 2. Alam
3. Manusia alam dan manusia atau teologi, kosmologi dan antropologi inilah tiga
masalah pokok yang dibahas oleh islam-juga oleh agama-agama lain.
Memang hubungan antara
allah dengan dunia, dan hubungan antara Allah dan manusia merupakan sangat
penting dalam hidup dan kehidupan ini. Dewasa ini tiga masalah besar itu masih
mengejar-ngejar pikiran orang-orang modern. Di antara mereka tidak sedikit yang
mengikuti pemikiran-pemikiran scientis dan mengambil sains sebagai jawabannya.
Ahli-ahli fisika, kimia, dan biologi diharapkan dapat menciptakan kosmogoni,
kosmologi, dan antropologi baru. Tetapi orang-orang yang lebih “progresif”
berpendapat bahwa mempelajari tiga hal tersebut berarti spekulasi metafisik,
sedangkan orang-orang “paling progresif” melihat bahwa tiga persoalan tersebut
hanya dapat dijawab dengan agama. Inilah metodologi yang keempat.
Masih ada orang yang
berusaha memahami islam dengan membahas allah, lalu dibandingkan dengan
allah-allah di agama lain. Ada lagi yang memulai dengan mempelajari kitab suci
Al-Qur’an dan dibandingkan dengan kitab-kitab yang diwahyukan atau dianggap
diwahyukan. Ada lagi cara untuk mengetahui Islam dengan mempelajari diri
pribadi Nabi Muhammad dan dibandingkan dengan nabi-nabi dari agama lain, ada juga
orang yang mempelajari orang-orang besar yang membawa pikiran-pikiran besar,
dibandingkan satu dengan yang lain.[3]
3.
Paradigma dan Pendekatan-pendekatan di dalam penelitian Ilmiah
Paradigama merupakan
bahasa latin yang artinya contoh. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan merupakan
contoh atau pertanyaan yang terus-menerus mendasari penyelidikan untuk beberapa
lama sebelum dapat terjawab, dan sepanjang penyelidikan menyebabkan hasil lain
sebagai sambilan.[4]
Paradigma dalam
disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya
yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan
bertingkah laku (konatif). Paradigm juga dapat berarti seperangkat asumsi,
konsep, nilai, dan praktik yang ditetapkan dalam memandang realitas dalam
sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual.[5]
Kecenderungan
penelitian ilmiah ini dasarnya mempelajari dan menganalisi secara mendalam
studi agama, bahkan berbagai agama. Studi agama-agama telah berdiri sendiri,
bahkan studi agama-agama kemudian membentuk sub-sub spesialisasi yang relative
kemudian mencapai idependensinya dengan guru besar, jurnal dan
asosiasinyasendiri, berbagai fakultas dan disiplin keilmuanlain yang mapan,
seperti sosiologi, antropologi, psikologi, dan hokum, makin menempatkan agama
sebagai objek kajian mereka[6]
Terdapat beberapa pendekatan yang terkenal diantaranya:
a.
Pendekatan npersonalis berupa pertanyaan
b.
Strukturalisme pengertian disini ialah
struktur social
c.
Fungsionalisme mencakup segala macam
teori terutama dalam sosiologi dan amtropologi social
d.
Normativisme
e.
History of religious (sejarah agama)
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Metode
waktu 20:43 tanggal 01-04-2016
[2][2]
Ibid, Kamus Besar Bahasa Indonesia Balai pustaka H. 580-581
[3]
Faisal Ananda Arfa, metode studi islam, h.54-55
[4]
Faisal Ananda Arfa, metode studi islam, h.55
[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma
waktu 20:58 tanggal 01-04-2016
[6]
Nur Ahmad Fadhli Lubis, Agama Sebagai Sistem Kultural, (Medan: IAIN Press Medan
Anggota Ikapi, 2000) hlm.38.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar